The Lord of the Rings - KEMBALINYA SANG RAJA
BAB 1
MINAS TIRITH
MINAS TIRITH
Pippin mengintip keluar dari balik jubah Gandalf. Hatinya bertanya-tanya, ini mimpi atau bukan. la serasa masih berada dalam mimpi yang meluncur cepat, yang telah menyelubunginya begitu lama sejak perjalanan berkuda ini dimulai. Dunia sekitar yang diselimuti kegelapan bagai mendesir lewat, angin menderu keras di telinganya. la tak bisa melihat apa pun kecuali bintang-bintang yang bergulir. Di sebelah kanannya bayangan-bayangan besar menutupi langit, dan pegunungan Selatan berderap melewatinya.
Sambil terkantuk-kantuk dicobanya merangkai kembali berbagai peristiwa dalam perjalanan mereka, tapi ingatannya masih berkabut. Mula-mula mereka berkuda dengan kecepatan sangat tinggi, tanpa berhenti, lalu saat fajar ia melihat secercah sinar keemasan redup. Mereka telah tiba di kota sunyi dan rumah besar kosong di atas bukit. Baru saja mereka sampai di sana, bayangan bersayap itu terbang kembali melewati mereka; orang-orang lemas ketakutan. Tapi Gandalf menenangkannya dengan kata-kata lembut, dan Ia pun tertidur di pojok, letih tapi tak bisa tidur nyaman; samar-samar ia ingat banyak orang datang dan pergi, ada suara orang-orang berbicara, dan Gandalf memberi perintah.
Lalu melaju naik kuda lagi, melaju dalam kegelapan malam. Sekarang malam kedua, eh bukan, malam ketiga sejak ia memandang ke dalam Batu Penglihatan itu. la terbangun seketika, saat teringat kejadian mengerikan itu, dan menggigil, sementara deru angin dipenuhi suara-suara yang mengusik. Seberkas cahaya merebak di langit, kobaran api kuning di balik tembok-tembok gelap. Pippin gemetar ketakutan, sejenak ia sangat cemas, bertanya-tanya ke negeri mengerikan mana Gandalf membawanya. la menggosok-gosok mata, lalu melihat bulan sedang muncul di atas bayang-bayang di timur, dan kini hampir purnama. Jadi, malam belum begitu larut dan perjalanan masih panjang.
Pippin beringsut dan berkata. “Di mana kita, Gandalf?” tanyanya. “Di wilayah Gondor,” jawab penyihir itu. “Kita sedang melewati daerah Anorien.” Beberapa saat sunyi. Lalu, “Apa itu?” teriak Pippin tiba-tiba, sambil mencengkeram jubah Gandalf. “Lihat! Api, api merah! Apakah ada naga di negeri ini? Lihat, ada lagi!” Sebagai jawaban, Gandalf berseru keras-keras pada kudanya. “Terus, Shadowfax! Kita harus cepat. Waktu kita singkat. Lihat! Api mercusuar Gondor sudah dinyalakan untuk meminta bantuan. Perang sudah berkobar. Lihat, ada api di atas Amon diri, dan di atas Eilenach; dan yang lainnya ke arah barat: Nardol, Erelas, Min-Rimmon, Calenhad, dan Halifirien di perbatasan-perbatasan Rohan.”
Tapi Shadowfax malah memperlambat derapnya menjadi langkah berjalan biasa, lalu mengangkat kepalanya dan meringkik. Dari dalam kegelapan datang jawaban: ringkikan kuda-kuda lain; tak lama kemudian terdengar derap kaki kuda; tiga penunggang menyusul melewati mereka, bagai hantu-hantu melayang di bawah sinar bulan, lenyap ke arah Barat. Shadowfax kembali tenang dan melompat berlari, terselubung malam, bagai angin yang menderu.
Baca selanjutnya di Sini
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar